Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur Spiritual. Tampilkan semua postingan

27 September, 2007

Pura Dalem Puri #02

Inilah "prefab" bangunan yang akan digunakan dalam menunjang pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih di Pura Dalem Puri. Wewangunan ini dibuat oleh beberapa orang pengayah dengan teknik sambungan struktur bangunan dan pemasangan atap menggunakan tali bambu sebagai pengikat (wah... jadi ngomongin struktur !).
Setelah selesai upacara nanti, bangunan ini akan dibongkar, natar pura pun kembali lagi lega dan tanaman bersemi lagi menghijau.
Siklus upacara di pura seringkali menyodorkan perubahan wajah lingkungan secara cepat dari arsitektur ke landscape.(Foto: Widnyana)

Pura Dalem Puri #01

Dalam rangka Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Puri 10 Oktober 2007, kini sedang giat dilakukan pembangunan berbagai sarana upacara termasuk bangunan-bangunan khusus yang akan digunakan untuk berbagai kepentingan menunjang pelaksanaan upacara. Bangunan-bangunan ini menggunakan bahan-bahan bambu, batang pinang, anyaman daun kelapa dan alang-alang. Sesekali melihat pembangunan "prefab" sederhana ternyata menarik juga. (Foto: Widnyana)

Pura Tuluk Biyu #03

Lagi-lagi, kendalanya adalah soal sudut sempit, terlebih saat itu sedang dilaksanakan upacara besar sehingga berbagai perlengkapan upacara dan bangunan temporer lainnya lebih mempersempirt sudut pemotretan. Foto ini menggunakan lensa lebar 18 namun tetap tidak menolong bahkan menghadirkan garis-garis distorsi pada bangunan (distorsi ini tentunya bisa diperbaiki lagi di komputer).
Bangunan-bangunan Padmasana, Meru dan Sanggar Tawang (temporer untuk upacara) ini menghadap ke barat sehingga pemotretan pada sore hari mungkin akan menghasilkan sajian yang lebih informatif, bukan sekedar sosok siluet belaka. (Foto: Widnyana)

Pura Tuluk Biyu #02

Jajaran palinggih Meru di sisi belakang Pura Tuluk Biyu. Sudut sempit pemotretan tidak memberi cukup ruang untuk menampilkan bangunan secara utuh. Kendati begitu, jajaran tumpang-tumpang atap Meru justru menjadi tampil unik.
Selain palinggih Meru, di jajaran belakang yang berbatasan dengan jurang ini, terdapat sekitar 15 palinggih kecil menggunakan bahan batu vulkanik sebagai bataran dan ijuk sebagai bahan atap (kereb).
Dari sisi belakang ini pula, pandangan ke arah gunung dan danau Batur terlihat luas, bebas dan indah tentunya. (Foto: Widnyana)

Pura Tuluk Biyu #01

Natar utama Pura Tuluk Biyu, Batur. Berbeda dengan kebanyakan pura, Pura Tuluk Biyu hanya memiliki satu natar yang dibatasi oleh tembok panyengker dengan dua Candi Bentar di bagian depan. Kendati demikian, di natar ini terdapat pengelompokan bangunan-bangunan palinggih sesuai dengan fungsinya. Bangunan yang terlihat dalam foto adalah palinggih Pengaruman Agung atau atau bangunan utama yang terletak di tengah natar.
Natar pura yang menggunakan perkerasan paving - grass block, tapi nggak ada rumputnya :(, cocoknya yaaa.. dust block kali ya! - menimbulkan penyinaran yang berlebih pada foto sehingga terjadi kontras yang cukup tinggi. (Foto: Widnyana)

24 September, 2007

Pura Pangubengan #04

Dari sudut pemotretan yang sama, obyek Meru dipotret dalam frame horisontal. Situasi lingkungan site dan latar belakang gunung Agung terlihat lebih utuh dan memberi gambaran suasana lingkungan.
(Foto: Widnyana)

Pura Pangubengan #03

Format vertikal, lebih condong ingin menunjukkan wujud Meru seutuhnya namun mengabaikan situasi lingkungan.
(Foto: Widnyana)

Pura Pangubengan #02

Sisi lain siluet Pura Pangubengan Besakih. Pohon cemara di sisi kiri dan kanan mampu memberi perbandingan skala terhadap bangunan Meru dan Pura secara keseluruhan.
(Foto: Widnyana)

23 September, 2007

Pura Pangubengan #01

Pura Pangubengan Besakih menjelang sore dengan langit biru bersih membuat suasana pura di tengah hutan lereng gunung Agung ini terlihat hening, sunyi dan damai. Siluet bangunan Meru dan Bale memperkuat kesan "diam".
(Foto: Widnyana)